
Gresik||Liputankasus.com – Miris wakil kepala kesiswaan SMK 1 Cerme ketahuan merokok di lingkungan sekolah saat beraktivitas lakukan daftar ulang siswa PPDB.
Meski Beberapa guru mungkin berdalih, “Saya merokok di luar jam pelajaran,” atau, “Saya tidak merokok di depan murid.” Tapi benarkah dampaknya hilang begitu saja? Bau asap rokok yang tersisa di baju, puntung rokok yang ditemukan siswa di sekitar ruang guru, atau cerita dari satu siswa ke siswa lain tentang gurunya yang merokok, semua itu meninggalkan jejak. Kecil, tapi tetap membekas.
Bukan Sekadar Soal Rokok
Masalah ini bukan semata soal kesehatan pribadi guru yang merokok. Ini soal konsistensi nilai dan keteladanan. Kita semua tahu bahwa guru adalah panutan. Setiap kata dan geraknya diamati oleh para siswa. Ketika seorang guru merokok di area sekolah—meski di pojok yang jauh dari pandangan siswa—nilai yang secara tak langsung ditanamkan adalah bahwa perilaku itu wajar dan bisa ditoleransi.Kontradiksi di Sekolah
Kontradiksi di Sekolah
Kita sering bicara soal pendidikan karakter, pentingnya hidup sehat, dan membiasakan pola hidup bersih di sekolah. Kita ikut kampanye anti-narkoba dan anti-rokok, bahkan memasang spanduk besar bertuliskan “Kawasan Tanpa Rokok”. Tapi bayangkan betapa kontradiktifnya ketika siswa melihat orang yang mengajarkan semua itu justru melanggar sendiri prinsip yang diajarkannya.
Dampaknya Tidak Ringan
Merokok di sekolah juga memberi dampak terhadap citra lembaga pendidikan secara keseluruhan. Orang tua yang datang ke sekolah dan mencium bau asap rokok di ruang guru atau area sekitar sekolah bisa langsung mempertanyakan kredibilitas kita. Apakah ini lingkungan yang layak bagi anak-anak mereka?.







